Piramida Cerita dan Si DIA, Strategi Meningkatkan Literasi Siswa di Sekolah
Proses belajar tidak hanya menekankan aspek menghafal, melainkan siswa harus mampu memahami apa yang mereka pelajari. Dikaitkan dengan taksonomi Bloom, pemahaman (understanding) merupakan tingkatan ranah kognitif yang berada di atas ingatan (remembering). Bahkan, pemahaman sangat diperlukan mempelajari segala bidang keilmuan, termasuk keterampilan memahami isi bacaan. Bahan bacaan dapat berupa media cetak, maupun elektronik. Berkenaan dengan literasi membaca, skor literasi membaca Indonesia pada PISA 2025 naik tipis menjadi 365 dari sebelumnya 359 pada tahun 2022 berada di peringkat ke-74 dari 91 negara. Menjawab tantang tersebut, gerakan membaca merupakan desain induk penumbuhan budi pekerti yang kemudian dikenal dengan Gerakan Literasi Sekolah (selanjutnya disebut GLS). GLS yang digagas dan dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca sejak tahun 2015.
Sebagai seorang Pengawas Sekolah, penulis menemukan bahwa upaya yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan literasi membaca siswa sangat masif. Upaya tersebut antara lain dengan membuat pojok baca, gerakan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, aktivitas kunjungan ke perpustakaan, ataupun menulis jurnal baca. Secara makro, geliat menumbuhkan literasi di sekolah sangat terasa. Hal ini pun mengingatkan penulis saat menjadi guru beberapa tahun silam. Keberhasilan siswa dalam menguasai keterampilan memahami bacaan tidak lepas dari faktor guru. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan piramida cerita.
Piramida cerita adalah sebuah cara yang digunakan untuk mengajak anak membaca cerita, dengan pemberian tugas. Tugas berupa menentukan awal cerita, isi cerita, dan akhir cerita. Ketiga bagian ini ditulis dalam bentuk piramida cerita. Piramida cerita berbentuk piramida dengan 3 sisi. Sisi pertama berisi tentang awal cerita. Apa saja isi awal cerita? Awal cerita mengungkapkan tentang bagaimana cerita dalam buku ini dimulai. Misalnya, menyebutkan latar tempat, waktu, kejadian, dan juga mengisahkan perjalanan awal si Tokoh utama. Misal saja, Pagi itu, terdengar kabar jika Putri akan ke istana. Semua warga istana bersiap menyambut kedatangannya. Sisi kedua, bagian isi cerita. Bagian ini merupakan klimaks cerita. Menggambarkan secara umum kejadian atau peristiwa penting yang terjadi dalam cerita. Klimaks juga dikenal dengan puncak cerita. Bagian ini paling menarik, karena pembaca akan tahu gambaran umum kejadian, atau konflik yang ada pada cerita. Misal, karena sedih, Nenek pun pergi meninggalkan rumah. Ia menetap di tepi danau. Sisi ketiga, akhir cerita. Bagian ketiga ini bisa disebut juga penutup cerita. Di sisi ini disajikan tentang penyelesaian konfil atau simpulan cerita. Misal saja, akhirnya Putri berubah kembali menjadi ikan. Bagaimana strategi dengan piramida cerita ini diterapkan?
Sebagai sebuah strategi dalam meningkatkan literasi membaca siswa, guru harus menyusn langkah agar piramida cerita ini efektif dalam pembelajaran. Dalam penerapannya penulis melakukan yang dikenal dengan Si DIA. Si DIA merupakan akronim dari Siapkan, Dampingi, Ilustrasikan, dan Apresiasi. Pertama, Siapkan. Guru menyiapkan perpustakaan kelas dan buku bacaan nonpelajaran yang sesuai dengan jenjang buku. Tidak hanya buku cerita, guru juga menyiapkan panduan pertanyyan yang mengarah pada isian piramida cerita. Kedua, Dampingi. Guru membentuk kelas menjadi kelompok belajar. Tiap kelompok terdiri atas 4 orang yang heterogen. Kelompok memilih buku nonpelajaran untuk dibaca. Kegiatan pendampingan kelompok bertujuan membantu siswa untk memahami pertanyaan dan cara menyelesaikan. Ketiga, Ilustrasikan. Kegiatan mengilustrasikan berupa guru meminta siswa menyelesaikan daftar pertanyaaan sesuai lembar kerja yang telah dibagikan. Siswa mengerjakan bersama kelompoknya. Ilustrasi dibuat dalam bentuk gambar. Setiap sisi dari Piramida Cerita ini memuat setidaknya sebuah gambar/ilustrasi yang mencerminkan isi bacaan. Sisi pertama memuat awal cerita, sisi kedua memuat inti cerita, dan sisi ketika memuat akhir cerita. Keempat, Apresiasi. Kegiatan apresiasi dilaksanakan pada akhir pertemuan. Bentuk apresiasi yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompok kepada seluruh siswa. guru memfasilitasi siswa terhadap tanggapan yang diberikan oleh kelompok lain. Tanggapan tersebut dirangkum, untuk kemudian dijadikan acuan perbaikan. Hasil karya siswa yang telah diperbaiki kemudian dipajang di papan pajangan. Implikasi penerapan Piramida Cerita dan Si DIA menciptakan pembiasaan belajar yang terstuktur, membentuk suasana kondusif yang mengarah pada peningkatan literasi siswa.
Guna memasifkan implementasi Piramida Cerita dan Si DIA di setiap kelas, penulis pun mengadakan pelatihan internal di sekolah yang melibatkan guru di sekolah. Pelatihan dilakukan dengan rasio teori dan praktik yaitu 30:70. Langkah pendampingan yang dilakukan dengan pendekatan backward by design. Dasar pendekatan ini adalah keyakinan bahwa sebelum memulai sesuatu, seseorang harus menentukan tujuan kahirnya terlebih dahulu. Kegiatan diawali dengan mengidentifikasi tujuan pengembangan kompetensi yang dilakukan. Penulis mengajak guru memastikan bahwa tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan kompetensi guru dalam meningkatkan literasi membaca siswa melalui implementasi Piramida Cerita dan Si DIA.
Tahapan ini merupakan penyamaan persepsi (teori 30%) terkait konsep literasi dan tujuan implementasi di kelas, pengertian, struktur, dan manfaat Piramida Cerita. Kemudian dilanjutkan dengan menentukan asesmen keberhasilan dari kegiatan. Setelah pelatihan, guru menerapkan strategi ini di kelas. Guru menyampaikan bagaiman pelaksanaan dan hasil yang telah dicapai. Langkah terakhir adalah merencanakan langkah kegiatan dalam menerapkan strategi Piramida Cerita dan Si DIA di kelas yaitu praktik langsung (70%). Pada kegiatan ini, guru bertindak sebagai siswa. Guru membaca cerita pendek lalu menyusun Piramida Cerita sendiri. Dalam kegiatan kelompok, guru saling menelaah hasil, misalnya apakah jumlah kata sudah sesuai dan apakah alurnya runtut. Guru menyusun skenario pembelajaran dan lembar kerja untuk kelasnya. Guru juga dilatih untuk merancang kegiatan dan simulasi kelas sebelum menerapkan di kelas masing-masing. Dengan upaya ini, semakin masif dan kreatif upaya guru dalam menerapkan beragam strategi untuk meningkatkan literasi membaca siswa. Semoga!

Punya teman yang butuh informasi ini?