Berita & Informasi

Update terbaru seputar kegiatan dan pendidikan dari Er Institute

Artikel

06 October 2026

SPIRIT VASUDHAIVA KUTUMBAKAM DALAM PENGENDALIAN INFLASI HULU KE HILIR

Aktivitas fajar di urat nadi perekonomian Denpasar seperti Pasar Badung dan Pasar Kereneng selalu berdenyut melalui pemandangan bersahaja. Jemari para pedagang dengan cekatan menata cabai, bawang, beras, hingga komoditas daging di lapak mereka. Di sudut lain, konsumen sibuk menimbang harga sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan pada kantong belanjaan yang akan dibawa pulang. Rutinitas ini sekilas tampak seperti transaksi ekonomi biasa. Padahal, di balik kesederhanaan tersebut, bertumpu sebuah jejaring rantai pasok yang masif mulai dari jerih payah petani di hulu, mobilitas armada logistik, hingga dinamika distribusi di hilir yang membentuk ekosistem ekonomi yang kompleks. Di sinilah dinamika inflasi mulai menampakkan pengaruhnya. Alih-alih sekadar angka statistik dalam rilis berkala, inflasi adalah cerminan riil daya beli dapur masyarakat Kota Denpasar. Rilis Badan Pusat Statistik menunjukkan laju inflasi tahunan (year-on-year) pada Agustus 2026 menyentuh 3,64 persen, seiring merangkaknya Indeks Harga Konsumen dari 110,86 menjadi 114,89. Sederhananya, barang senilai Rp100.000 di tahun lalu kini melonjak jadi hampir Rp104.000. Sementara itu, inflasi bulanan berada di angka 0,65 persen dan inflasi tahun kalender terakumulasi sebesar 2,68 persen. Bagi ibu rumah tangga, persentase ini adalah jawaban nyata mengapa uang belanja bulanan belakangan ini terasa lebih cepat habis, meski barang yang dibeli sama saja. Kendati demikian, indikator makro ini hanyalah muara akhir. Anatomi inflasi justru berakar di sektor hulu yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP). Pada Agustus 2026, NTP Bali mencapai 103,62, tumbuh 0,94 persen dibanding Juli karena kenaikan indeks terima petani (1,18%) melampaui indeks bayar (0,23%). Angka di atas 100 ini sekilas membawa kabar baik, artinya secara umum kantong petani kita masih berada di posisi “untung” karena pendapatan mereka sedikit lebih tinggi daripada biaya hidup dan modal produksi. Sayangnya, pertumbuhan ini tidak merata. Saat petani cabai dan sayur-sayuran (hortikultura) menjerit karena kesejahteraan mereka anjlok 1,89 persen, para peternak justru sedang tersenyum karena subsektor mereka melonjak signifikan hingga 2,91 persen. Ketimpangan sektoral ini menjadi sinyal kuat adanya kerentanan nyata di balik angka agregat inflasi, sekaligus menggambarkan ketidakpastian yang harus dihadapi oleh tiap-tiap pelaku usaha di lapangan. Urgensi intervensi dari sektor hulu ini sejalan dengan penelitian empiris Farandy (2020) yang mengonfirmasi bahwa inflasi pangan di Indonesia dibentuk oleh jalinan tiga faktor utama yaitu agregasi permintaan, stabilitas penawaran, dan guncangan eksternal pada sektor transportasi. Penelitian ini mempertegas argumen bahwa eskalasi harga di tingkat konsumen berakar langsung dari problem struktural di tingkat produsen, dengan komoditas pangan sebagai contoh paling rentan. Begitu rantai produksi terganggu, pasokan otomatis menyusut, memicu kemacetan distribusi, dan berujung pada disparitas harga antardaerah. Akibatnya, pembengkakan ongkos produksi maupun logistik mau tidak mau harus ditanggung oleh konsumen lewat harga eceran yang mahal. Pola ini membuktikan bahwa manajemen inflasi yang bernilai guna wajib digerakkan sejak fase awal, yakni melalui penguatan basis produksi dan tata kelola logistik. Dinamika fluktuasi harga di pasar domestik Denpasar pun bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Sebagai ilustrasi, pergerakan harga rata-rata cabai rawit di tiga pasar yaitu Pasar Badung, Pasar Kereneng, dan Pasar Nyanggelan tercatat sangat volatil pada penghujung Agustus 2026. Komoditas ini sempat bertengger di angka Rp53.778 per kilogram pada 27 Agustus, lalu melandai ke posisi Rp52.333 pada hari berikutnya. Namun, hanya dalam jeda akhir pekan, harganya melesat tajam menjadi Rp59.445 pada 31 Agustus. Anomali singkat berdurasi hari ini menjadi pembenaran kuat mengapa sistem pengawasan harga mutlak diperlukan. Kendati demikian, mitigasi inflasi tidak boleh disalahartikan sebagai upaya menekan harga komoditas hingga titik terendah. Benar bahwa konsumen berhak atas keterjangkauan harga, namun di sisi lain, petani juga membutuhkan margin keuntungan yang adil agar tetap memiliki insentif untuk berproduksi. Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar mengadopsi instrumen Strategi 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif). Strategi besar ini diturunkan ke dalam tujuh aksi taktis, meliputi pemantauan harga dan pasokan secara berkala, penyelenggaraan rapat koordinasi teknis TPID, pengamanan stok bahan pokok penting, akselerasi gerakan menanam massal, pasar murah dan operasi pasar, inspeksi mendadak ke simpul-simpul distributor guna mencegah praktik penimbunan, serta perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah basis produsen. Formulasi di atas bukan sekadar jargon di atas kertas. Sepanjang Januari hingga September 2026, Tim SP2KP secara konsisten melakukan pemutakhiran data harga harian di Pasar Badung, Nyanggelan, dan Kereneng. Langkah ini diimbangi oleh Perumda Pasar Sewakadarma yang rutin menggelar operasi pasar setiap Senin, Kamis, dan Jumat. Pada saat yang sama, Dinas Pertanian bergerak aktif di sektor hulu untuk mengawal kalender tanam dan panen, sementara Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan memastikan cadangan pangan daerah tetap aman. Guna memperkuat lini pasokan, Perumda Pasar Sewakadarma juga menjalin kemitraan strategis dengan daerah lain, salah satunya dalam pemenuhan pasokan beras dari Kabupaten Tabanan. Sinergi lintas sektoral ini menunjukkan bahwa elemen dalam 4K tidak dapat berdiri sendiri, keterjangkauan harga di hilir mustahil terwujud tanpa sokongan kelancaran produksi dan distribusi dari hulu. Pola interdependensi inilah yang menempatkan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam menemukan momentum relevansinya yang paling kuat. Prinsip menyama braya merefleksikan realitas ekonomi modern bahwa tidak ada satu pun aktor yang mampu bertahan dalam isolasi. Petani membutuhkan agregator, pasar memerlukan kepastian pasokan, pedagang bergantung pada daya beli, dan konsumen membutuhkan stabilitas harga. Begitu pula dengan posisi sosiogeografis Kota Denpasar yang tidak bisa melepaskan ketergantungannya pada daerah produsen mitra. Konsekuensinya, kebijakan publik yang presisi hanya bisa lahir dari kolaborasi data yang solid antarpemangku kepentingan. Kerusakan pada satu simpul otomatis memicu efek domino pada ekosistem lainnya. Melalui kacamata spiritual ini, paradigma pengendalian inflasi di Kota Denpasar harus digeser bukan lagi sekadar tindakan "mengendalikan harga", melainkan sebuah komitmen luhur untuk "merawat seluruh mata rantai kehidupan ekonomi". Menatap lanskap ekonomi ke depan, tantangan terbesar TPID adalah mentransformasikan sistem pengendalian inflasi agar lebih bersifat antisipatif. Realitas lapangan dari data SP2KP yang masih merekam deviasi harga di atas HET serta disparitas tarif antar-pasar seharusnya tidak hanya dibaca sebagai laporan rutin. Data tersebut mesti dikooptasi sebagai Early Warning System yang memicu respons cepat sebelum kepanikan pasar meluas. Dengan menjadikan spirit Vasudhaiva Kutumbakam sebagai ruh pembangunan Kota Denpasar, tata kelola inflasi diharapkan mampu menjaga keharmonisan siklus ekonomi. Pada akhirnya, menjaga stabilitas harga adalah manifestasi paling konkret dari upaya kita dalam merawat kesejahteraan masyarakat di Kota Denpasar.   Tentang penulis Ni Luh Ayu Dessy Andriani, S.E., M.E. Penulis merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas sebagai Penelaah Teknis Kebijakan pada Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Denpasar, dengan tugas yang berkaitan dengan pengendalian inflasi daerah, termasuk pemantauan perkembangan harga, ketersediaan dan distribusi komoditas, serta koordinasi pelaksanaan kebijakan pengendalian inflasi di Kota Denpasar.

Baca Artikel →
Akademik

06 October 2026

Perikanan dan Ketahanan Pangan di Kota Denpasar: Seberapa Dekat dengan Masyarakat?

Membahas perikanan dan ketahanan pangan, yang muncul dalam bayangan mungkin bukan langsung kepada kebijakan atau program pemerintahnya. Hal yang lebih menelisik justru pada sesuatu yang lebih sederhana dan esensinya pada kehidupan sehari-hari, seperti apakah harga ikan dan pangan yang terjangkau, bagaimana ikan dan pangan yang tersedia di pasar, bagaimana keamanan bahan ikan dan pangan yang dikonsumsi keluarga, hingga bagaimana kemampuan masyarakat memperoleh ikan dan pangan yang cukup dan berkualitas. Kota Denpasar saat ini memiliki karakteristik yang menarik dalam konteks perikanan dan pangan. Sebagai wilayah perkotaan dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang tinggi, kebutuhan terhadap pangan tidak berhenti pada persoalan ketersediaan dan keamanan. Masyarakat juga membutuhkan pangan yang aman, bermutu, terjangkau, dan mudah diakses. Pada saat yang bersamaan, sektor perikanan memiliki posisi penting karena ikan merupakan salah satu sumber pangan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat sekaligus berkaitan dengan aktivitas ekonomi para pelaku usaha. Hal ini diperkuat dengan kinerja sektor perikanan dan pangan di Kota Denpasar yang patut mendapat apresiasi. Pada tahun 2025, produksi perikanan di Kota Denpasar sukses menembus 2.263 ton dari target 2.255 ton. Begitu pula dengan realisasi Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi berhasil mencapai angka 94,05%, melampaui target yang ditetapkan sebesar 93,60%. serta Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Ketersediaan yang mencapai 96,23%. Dari disini diketahui bahwa perikanan dan pangan sudah memenuhi target, bahkan dirasa sudah cukup untuk menaungi masyarakat kota. Dititik inilah keberadaan pemerintah sesungguhnya diuji, sebab keberhasilan itu sendiri tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak program dilaksanakan, tetapi juga oleh seberapa jauh manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Sehingga muncul sebuah pertanyaan: seberapa dekat sebenarnya kebijakan dan pelayanan pemerintah di bidang perikanan dan ketahanan pangan dengan masyarakat? Dalam konteks perikanan, masyarakat tidak hanya membutuhkan ikan sebagai komoditas pangan. Di balik ikan terdapat rangkaian aktivitas yang melibatkan pembudidaya, pengolah, pelaku usaha, hingga konsumen. Pemerintah melalui memiliki ruang untuk hadir dalam berbagai tahapan tersebut, baik melalui pembinaan seperti, pelayanan, fasilitasi, pengawasan maupun penyediaan informasi. Program-program yang dijalankan diantarannya Kids Education untuk mengenalkan ikan kepada anak-anak, GEMARIKAN program untuk mengenalkan makanan ikan dan Kontes Walikota CUP Ikan Maskoki Bali sebagai pelestarian Ikan MasKoki Bali. Program tersebut merupakan salah satu program dari beberapa program yang tentunya berkolaburasi dengan stakeholder dan seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, pelayanan publik juga membantu untuk masyarakat untuk lebih dekat di sektor perikanan yaitu bantuan benih ikan yang terdiri dari 2 (jenis), untuk restoking dan budidaya. Restoking bermanfaat dalam stakeholder termasuk masyarakat untuk ekosistem air, memajukan perekonomian dan giat akan konsumsi ikan. Hal serupa berlaku dalam ketahanan pangan. Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan pangan tersedia. Pemerintah juga perlu memperhatikan bagaimana pangan tersebut dapat diperoleh masyarakat, bagaimana kestabilan pasokannya, bagaimana kualitas dan keamanannya, serta bagaimana masyarakat memahami pentingnya pangan yang aman dan bermutu. Pemantauan stok pasokan dan harga pangan, Paket B2SA (paket sayur, umbi, protein nabati, buah, jagung) untuk pencegahan stunting, Pengadaan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) Kota Denpasar (beras 10 Ton) untuk kerawanan pangan kota, serta Uji Mutu Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) untuk keamanan pangan adalah beberapa program Dinas yang sudah menyentuh masyarakat. Pelayanan publik yang disediakan adalah Bazzar Pangan untuk mengendalikan inflasi dan Aplikasi SIPAPA Online sebagai wadah untuk mengetahui harga pangan di Kota Denpasar. Program dan pelayanan publik yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami dan dirasakan relevansinya, akibat adanya sebuah komunikasi yang dari pemerintah kepada stakeholder. Pemerintah perlu menjelaskan mengapa suatu program dilakukan, siapa yang dapat memanfaatkannya, bagaimana cara mengaksesnya, dan apa manfaat yang dapat diperoleh masyarakat. Hal tersebut kini semakin relevan ditengah perubahan cara masyarakat memperoleh informasi. Masyarakat tidak hanya menunggu informasi dari kantor pemerintahan atau pertemuan tatap muka. Informasi dapat dicari melalui media sosial yang dapat diakses melalui Instagram @dpkp_denpasar dan youtube Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar, situs web melalui https://www.perikanan.denpasarkota.go.id, maupun berbagai kanal digital lainnya seperti Satu Data Kota Denpasar yang juga memuat data perikanan dan pangan. Aplikasi SIPAPA Online atau Sistem Penyediaan Ketersediaan Pangan Online sebagai inovasi dengan menghadirkan informasi pangan secara yang edukatif, mudah dipahami, dan berbasis data.   Era digital menuntut pemerintah untuk beradaptasi dalam menyampaikan informasi publik. Dengan demikian, kedekatan pemerintah tidak hanya berbicara mengenai hadir secara fisik, tetapi juga hadir dalam ruang informasi masyarakat. Pelayanan tidak lagi sekadar dipahami sebagai proses administratif antara masyarakat dan aparatur, tetapi sebagai hubungan yang lebih luas. Pemerintah menyediakan layanan, masyarakat memperoleh manfaat, dan keduanya dapat memberikan umpan balik untuk memperbaiki kebijakan. Ukuran keberhasilan pemerintah seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih substantif: berapa banyak masyarakat yang mengetahui, mengakses, memanfaatkan, dan merasakan manfaat dari kegiatan tersebut? Survey Kepuasan Masyarakat menjawab seberapa banyak masyarakat menyelami dan mendalami bagaimana program dan kebijakan pemerintah dijalankan dari sektor perikanan dan ketahanan pangan. Hasil menunjukkan pada semester 1 tahun 2026, Indeks Kepuasan Masyarakat pada Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar menyentuh angka 89,59%. Angka tersebut patut diapresiasi karena sudah termasuk pelayanan dengan kategori sangat baik. Namun yang menjadi pertanyaan adalah jumlah pengisian survey hanya 35 (tiga puluh lima) orang. Pendekatan kepada masyarakat atau stakeholder dalam pengisian kuisioner sebaiknya lebih ditingkatkan lagi, agar lebih mengetahui bagaimana pandangan stakeholder tentang program, kebijakan dan pelayanan publik yang sudah dijalankan. Indeks tersebut sebagai pandangan bahwa kedekatan pemerintah dengan masyarakat bukanlah kondisi yang selesai dibangun dalam satu program, melainkan proses yang terus membutuhkan evaluasi. Pemerintah perlu mendengar masyarakat, membaca data, mengidentifikasi persoalan, memperbaiki layanan, dan mengomunikasikan hasilnya secara terbuka. Perikanan dan ketahanan pangan di Kota Denpasar dapat dilihat bukan hanya sebagai urusan sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun kualitas kehidupan masyarakat perkotaan. Pemerintah memiliki peran untuk memastikan bahwa kebijakan yang dibuat tidak berhenti diatas kertas. Maka, pertanyaan “seberapa dekat dengan masyarakat?” bukanlah pertanyaan untuk mencari siapa yang benar atau salah. Pertanyaan tersebut justru dapat menjadi cermin untuk melihat sejauh mana kebijakan perikanan dan ketahanan pangan telah bergerak dari program pemerintah menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat. Jika data, inovasi, pelayanan, dan komunikasi publik dapat berjalan beriringan, maka perikanan dan ketahanan pangan tidak lagi menjadi istilah yang hanya dikenal dalam dokumen pemerintahan, namun hadir dalam akses yang lebih mudah, informasi yang lebih jelas, serta pelayanan yang semakin responsif. Penulis Mutya Armika_ Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan  Kota Denpasar

Baca Artikel →
Cerpen

05 October 2026

Mén Paso

Tanah basah melumuri pakaian hingga ke sela-sela jari Mén Paso. Jemarinya yang berkerut terus menari menuntun gumpalan tanah liat basah di atas roda putar kayu. Tanpa listrik, hanya derit roda yang diputar manual memecah sunyi di bawah temaram petromak. Setiap kali roda kayu itu berputar, sebuah paso yang elok selalu berhasil lahir dari tangan Mén Paso. Namun, malam ini dahi wanita paruh baya itu berkerut sedikit lebih dalam. Suara derit roda kayu perlahan melambat. Gerakan tangannya terhenti sejenak. Ia menghela napas panjang melihat sisa adonan tanah liat yang tinggal sepertiga. Selama tiga minggu terakhir, ia kesulitan mencari pemasok tanah liat. Lahan penyedia tanah liat langganannya sudah berganti fungsi menjadi perumahan. Kalaupun ada dari tempat lain, harganya mencekik kantong. Namun, kini bukan hanya tanah liat yang semakin sulit didapatkan. Kesepian pun perlahan menyusup ke benaknya. Anak muda di desanya satu per satu memilih bekerja di pusat kota. Mereka lebih tertarik bekerja di tempat-tempat yang dianggap menawarkan masa depan yang cerah. Sementara itu, seni memutar tanah liat semakin dipandang sebelah mata, kotor karena dianggap tidak menjanjikan. Ia tahu bahwa bukan hanya tanah liat yang sedang habis. Namun, sebuah warisan yang telah hidup selama bertahun-tahun di desanya pun perlahan akan menghilang. Mén Paso teringat kembali pada percakapannya dengan Wayan, cucu tertuanya, yang dengan tegas menolak saat hendak ia ajari membuat gerabah. “Masih mengerjakan paso, Mé?” suara berat Wayan memecah hening. Anak muda itu berjalan sembari menatap layar ponselnya yang menyala terang. Mén Paso sangat berharap kelak Wayanlah yang mewarisi pondok paso miliknya. Namun, harapan itu sudah terhenti semenjak Wayan bekerja ke pusat kota. Wayan duduk di lincak bambu tak jauh dari roda putar. “Kenapa masih bertahan, sih, Mé? Anak muda seusiaku mana ada yang mau belepotan lumpur begini. Mending kerja di kota atau jualan online. Hasilnya jelas, baju tetap bersih.” Mén Paso tak langsung menjawab. Ia mengambil gumpalan tanah baru, menaruhnya di tengah roda, lalu memutarnya kembali. "Tanah ini punya nyawa, Yan. Kalau kita sabar membentuknya, ia bisa memberi makan dan menghidupi keluarga kita bertahun-tahun. Tapi sekarang tanahnya makin susah dicari, begitu pun yang mau belajar cuma angin lalu.” Ada nada getir yang halus dalam suara neneknya dan entah mengapa, hal itu mengusik hati Wayan. Ia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke jemari neneknya yang gemetar namun, begitu rapi membentuk bibir pot tanah liat. Ia berdiri dan melangkah cepat menuju bilik. Mén Paso hanya bisa terdiam. Ia sudah tak tahu lagi harus berucap bagaimana dengan cucunya.  Malam semakin larut. Tenaga Mén Paso nyaris tak tersisa. Jemarinya yang penuh tanah liat ia bersihkan perlahan. Setelah itu, ia merapikan alat-alat kerjanya satu per satu. Tinggal satu pekerjaan lagi. Mén Paso menarik napas panjang, lalu mengangkat papan yang berisi paso. Papan itu terasa semakin berat. Tangannya gemetar, kakinya pun mulai goyah. Ia mencoba melangkah menuju tempat pengeringan. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Bruk! Mén Paso terjatuh dengan keras. Papan di tangannya terlepas. Paso di atasnya bergeser dan jatuh ke tanah. Mén Paso terdiam, napasnya tersengal-sengal. Matanya tertuju pada paso yang berada di ujung papan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Mén Paso merangkak mendekati papan. Ia mengambil paso dengan kedua tangannya. Beberapa saat ia hanya diam, memastikan paso itu tidak hancur. Wayan, yang sedari tadi berada di dalam bilik, langsung menghambur keluar begitu mendengar suara keras yang mengagetkan. “Ada apa ini, Mé?” tanyanya dengan suara keras. Saking terkejutnya sampai sandal jepit pun tak dikenakannya. Wayan kian panik melihat Mén Paso terduduk di tanah. Wayan membantu Mén Paso berdiri, tidak ada bagian tubuhnya yang terluka. Hanya saja tangan dan kakinya bergetar hebat. Dengan tertatih, Mén Paso berjalan ke dalam biliknya.   Wayan berdiri terpaku di ambang bilik. Dadanya masih terasa sesak melihat kondisi Mén Paso. Ia memandangi neneknya yang kini duduk bersandar di dipan, napasnya perlahan mulai teratur. Untuk pertama kalinya, Wayan menyadari betapa keras neneknya bekerja seorang diri. Di luar bilik, gerabah-gerabah yang belum selesai masih berserakan. Wayan melangkah, mengambil satu per satu gerabah lalu kembali ke biliknya. Pagi sudah menyibak selimut malam. Cahaya fajar mulai mengintip di balik pepohonan ketika Mén Paso bergegas ke pondok pasonya. Pemasok dari pasar akan datang mengambil paso yang telah selesai dibuat. Langkahnya terhenti. Dari kejauhan, Wayan sudah duduk di sana, jemarinya sudah kotor berlumur tanah basah begitu pula bajunya. Rupanya, Wayan bangun lebih pagi, bahkan sebelum kokok ayam terdengar. Pertama kalinya ia datang bukan untuk bermain atau mengeluh, melainkan ia ingin membantu neneknya. Mén Paso terdiam sejenak. Senyum tipisnya perlahan mengembang dari wajahnya yang berkerut. “Wayan, nanti bajumu kotor,” ujar Mén Paso sambil menepuk-nepuk tanah liat yang menempel di pakaian cucunya. “Tidak apa-apa, Mé. Kali ini ajarkan aku,” sahutnya dengan semangat. Mendengar ucapan cucunya, dadanya terasa hangat. Ada bahagia yang sulit ia ungkapkan.  Wayan diam sejenak, lalu melirik sisa tanah di gentong.  "Mé, tanah liat yang bagus itu bedanya apa sama tanah di belakang rumah yang agak berpasir?" kata Wayan sembari memilin tanah liat di tangannya. Mén Paso tertawa kecil. "Ah, kalau tanah belakang rumah itu terlalu renyah, Yan. Harus dicampur dengan tanah lempung hitam dan ditapis halus dulu supaya lentur. Harus dicampur dengan sedikit abu gosok halus." Dengan cepat Wayan berpikir. "Kalau begitu, kenapa kita tidak olah sendiri tanah di ladang belakang? Kita saring airnya, pisahkan pasir kasar pakai kain kasa. Aku pernah lihat videonya di internet, orang-orang luar negeri bikin pottery pakai teknik endapan." Mén Paso menghentikan putaran rodanya, menatap Wayan dengan mata berbinar kaget. "Memang bisa?" sahutnya penuh harap. "Bisa, Mé. Wayan bantu ambil tanah belakang, kita coba saring sama-sama," sahut Wayan penuh semangat. Sesuatu di dalam dirinya mendadak terpecik melihat potensi dari hal yang selama ini ia anggap kuno. “Tapi, Yan, paso yang Mémé buat biasa digunakan untuk upacara persembahyangan. Tiga bulanan, bahkan menghaturkan tirta. Jika bahannya diganti, apakah akan menghilangkan maknanya?” tanya Mén Paso perlahan.             Sejenak Wayan terdiam mencerna pertanyaan Mén Paso. Ia tahu bagi Mén Paso tradisi bukan sekadar kebiasaan, melainkan warisan yang harus dijaga dan dijalankan sebaik mungkin. Mén Paso khawatir, jika ada bagian yang diubah, makna dan kesakralan tradisi itu tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Terselip keraguan yang ia rasa.             “Mé, kita hanya mengganti bahan baku pembuatnya saja bukan mengurangi makna yang ada di dalamnya, bahkan sama sekali tidak menghilangkan tradisi itu, Mé,” jawab Wayan lembut menenangkan Mén Paso.             Mendengar jawaban Wayan, raut wajah Mén Paso tampak lega. Mén Paso menyetujui ajakan cucunya untuk membuat tanah buatan.   "Nanti, gerabah buatan Mémé tidak cuma dijual di pasar desa. Kita bikin bentuk yang lebih modern, seperti cangkir kopi estetis atau pot tanaman hias mini. Wayan yang foto dan jual di internet!" Wayan berseru dengan semangat. Kini bunyi derit roda kayu tak lagi terdengar sunyi. Ada gelak tawa ringan antara nenek dan cucu yang saling menimpali. Kesulitan bahan baku yang mahal menemukan celah lewat hal sederhana mereka. Dan yang paling berharga bagi Mén Paso, roda kayu tua itu kini tidak lagi berputar sendiri. Ada sepasang tangan muda yang mulai tertarik untuk melanjutkan tarian di atas tanah basah. Sabtu pagi, pondok paso tempat pemutaran gerabah Mén Paso berubah wajah. Tidak ada lagi tumpukan cobek kasar yang hanya menunggu pedagang pasar datang menawar murah. Di atas meja kayu tua, kini berjejer lima buah mug tanah liat bertangan tunggal dengan lekukan ulir yang halus, serta tiga vas bunga berdesain minimalis hasil Wayan dan kepiawaian jemari Mén Paso. "Nah, sekarang giliran sinar matahari pagi yang kerja, Mé," kata Wayan sambil menggeser meja ke dekat celah atap. Mén Paso memperhatikan dengan heran saat Wayan menyusun beberapa ranting kering di dalam vas bunga, lalu meletakkan cangkir tanah liat di atas kain blacu putih. Pemuda itu mengelap sela-sela jarinya yang belepotan tanah, lalu meraih ponsel pintarnya. Cklik. Cklik. "Lho, kok difoto sama ranting kering segala, Yan? Nanti orang mikir vasnya belum selesai dibersihkan," celetuk Mén Paso sambil terkekeh pelan, menyapu keringat di dahi dengan lengan bajunya. "Ini namanya aesthetic staging, Mé! Orang kota cari barang handmade begini bukan cuma buat wadah air, tapi buat hiasan meja kerja sama properti kafe," jawab Wayan antusias. Tangannya lincah mengetik judul di layar ponsel. Tak berhenti di situ, Wayan meminta Mén Paso duduk di atas dingklik kayunya. Ia merekam video pendek berdurasi 15 detik jemari berkerut Mén Paso yang dengan penuh rasa telaten membentuk leher vas di atas roda putar manual. Suara derit kayu dan napas tenang Mén Paso menjadi nada latar alami yang memikat. Wayan menekan tombol Unggah. Dua jam pertama, tidak ada yang terjadi. Mén Paso kembali melumpur, meremas adonan tanah liat hasil pembelian kemarin yang teksturnya jauh lebih kenyal dan bersih. Namun, menjelang sore ponsel Wayan yang tergeletak di atas meja kayu tiba-tiba bergetar tanpa henti. Ting! Ting! Ting! "Mé! Lihat ini!" Wayan hampir meloncat dari duduknya. Layar ponselnya dipenuhi notifikasi. Video pendek pembuatan gerabah tadi telah ditonton lebih dari sepuluh ribu kali. Kolom komentarnya dibanjiri pertanyaan. Mén Paso mendekat, mengintip layar kecil yang dipenuhi tulisan asing baginya. "Orang-orang ini mau beli gerabah Mémé?" tanyanya kebingungan. "Bukan cuma mau beli, tapi banyak juga yang mau berkunjung untuk melihat proses pembuatannya, Mé!" ujar Wayan dengan mata berbinar-binar. "Harganya tiga kali lipat dari harga cobek di pasar biasa, tapi mereka malah bilang ini sangat murah untuk sebuah karya seni!" Mén Paso terpaku. Ia menatap telapak tangannya yang penuh guratan dan noda tanah liat basah. Sekian puluh tahun ia menganggap pekerjaan ini hanyalah sisa-sisa mata pencaharian tua yang tak lagi berharga. Namun hari ini, di mata orang-orang jauh di luar desanya, jemari berkerut itu adalah pencipta keindahan. Senyum tulus mengembang di wajah Mén Paso, mengalahkan rasa lelah di punggungnya. "Yan," bisik Mén Paso pelan, matanya sedikit berkaca-kaca. "Racik tanahnya lagi. Hari ini Mémé mau memutar roda kayu sampai petromak kita menyala nanti malam." Wayan tertawa riang, segera menggulung lengan kemejanya. Di bawah naungan atap sederhana itu, suara derit roda kayu kembali terdengar kali ini, membawa irama harapan baru yang tak lagi sunyi. Di antara tanah liat, tanah, dan roda kayu yang terus berputar, Mén Paso menemukan harapan bahwa apa yang selama ini dijaganya tidak akan berhenti di tangannya. Melainkan kini, telah ada yang melanjutkan, merawat, dan memperkenalkan kembali gerabah kepada generasi berikutnya. Roda kayu terus berputar. Begitu pula kehidupan dan tradisi yang akan tetap hidup selama ada hati yang mampu menerima.   Tentang penulis Putu Utari Sukmadewi, yang akrab disapa Utari, merupakan seorang guru sekolah dasar di Kota Denpasar, Bali. Selain mengabdikan diri dalam dunia pendidikan, Utari memiliki ketertarikan terhadap literasi, khususnya dalam menulis cerita yang mengangkat kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Utari merupakan finalis Lomba Cerpen Gebyar Literasi Kota Denpasar. Melalui karya yang ditulisnya, Utari ingin memperkenalkan paso yang terdapat sebagai salah satu bentuk keragaman tradisional yang dimiliki Kota Denpasar. Baginya, paso bukan sekadar bagian dari tradisi, tetapi juga memiliki nilai budaya yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda agar keberadaannya tetap dikenal dan dihargai.

Baca Artikel →
Akademik

04 October 2026

Piramida Cerita dan Si DIA, Strategi Meningkatkan Literasi Siswa di Sekolah

Proses belajar tidak hanya menekankan aspek menghafal, melainkan siswa harus mampu memahami apa yang mereka pelajari. Dikaitkan dengan taksonomi Bloom, pemahaman (understanding) merupakan tingkatan ranah kognitif yang berada di atas ingatan (remembering). Bahkan, pemahaman sangat diperlukan mempelajari segala bidang keilmuan, termasuk keterampilan memahami isi bacaan. Bahan bacaan dapat berupa media cetak, maupun elektronik. Berkenaan dengan literasi membaca, skor literasi membaca Indonesia pada PISA 2025 naik tipis menjadi 365 dari sebelumnya 359 pada tahun 2022 berada di peringkat ke-74 dari 91 negara. Menjawab tantang tersebut, gerakan membaca merupakan desain induk penumbuhan budi pekerti yang kemudian dikenal dengan Gerakan Literasi Sekolah (selanjutnya disebut GLS). GLS yang digagas dan dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca sejak tahun 2015. Sebagai seorang Pengawas Sekolah, penulis menemukan bahwa upaya yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan literasi membaca siswa sangat masif. Upaya tersebut antara lain dengan membuat pojok baca, gerakan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, aktivitas kunjungan ke perpustakaan, ataupun menulis jurnal baca. Secara makro, geliat menumbuhkan literasi di sekolah sangat terasa. Hal ini pun mengingatkan penulis saat menjadi guru beberapa tahun silam. Keberhasilan siswa dalam menguasai keterampilan memahami bacaan tidak lepas dari faktor guru. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan piramida cerita. Piramida cerita adalah sebuah cara yang digunakan untuk mengajak anak membaca cerita, dengan pemberian tugas. Tugas berupa menentukan awal cerita, isi cerita, dan akhir cerita. Ketiga bagian ini ditulis dalam bentuk piramida cerita. Piramida cerita berbentuk piramida dengan 3 sisi. Sisi pertama berisi tentang awal cerita. Apa saja isi awal cerita? Awal cerita mengungkapkan tentang bagaimana cerita dalam buku ini dimulai. Misalnya, menyebutkan latar tempat, waktu, kejadian, dan juga mengisahkan perjalanan awal si Tokoh utama. Misal saja, Pagi itu, terdengar kabar jika Putri akan ke istana. Semua warga istana bersiap menyambut kedatangannya. Sisi kedua, bagian isi cerita. Bagian ini merupakan klimaks cerita. Menggambarkan secara umum kejadian atau peristiwa penting yang terjadi dalam cerita. Klimaks juga dikenal dengan puncak cerita. Bagian ini paling menarik, karena pembaca akan tahu gambaran umum kejadian, atau konflik yang ada pada cerita. Misal, karena sedih, Nenek pun pergi meninggalkan rumah. Ia menetap di tepi danau. Sisi ketiga, akhir cerita. Bagian ketiga ini bisa disebut juga penutup cerita. Di sisi ini disajikan tentang penyelesaian konfil atau simpulan cerita. Misal saja, akhirnya Putri berubah kembali menjadi ikan. Bagaimana strategi dengan piramida cerita ini diterapkan? Sebagai sebuah strategi dalam meningkatkan literasi membaca siswa, guru harus menyusn langkah agar piramida cerita ini efektif dalam pembelajaran. Dalam penerapannya penulis melakukan yang dikenal dengan Si DIA. Si DIA merupakan akronim dari Siapkan, Dampingi, Ilustrasikan, dan Apresiasi. Pertama, Siapkan. Guru menyiapkan perpustakaan kelas dan buku bacaan nonpelajaran yang sesuai dengan jenjang buku. Tidak hanya buku cerita, guru juga menyiapkan panduan pertanyyan yang mengarah pada isian piramida cerita. Kedua, Dampingi. Guru membentuk kelas menjadi kelompok belajar. Tiap kelompok terdiri atas 4 orang yang heterogen. Kelompok memilih buku nonpelajaran untuk dibaca. Kegiatan pendampingan kelompok bertujuan membantu siswa untk memahami pertanyaan dan cara menyelesaikan. Ketiga, Ilustrasikan. Kegiatan mengilustrasikan berupa guru meminta siswa menyelesaikan daftar pertanyaaan sesuai lembar kerja yang telah dibagikan. Siswa mengerjakan bersama kelompoknya. Ilustrasi dibuat dalam bentuk gambar. Setiap sisi dari Piramida Cerita ini memuat setidaknya sebuah gambar/ilustrasi yang mencerminkan isi bacaan. Sisi pertama memuat awal cerita, sisi kedua memuat inti cerita, dan sisi ketika memuat akhir cerita. Keempat, Apresiasi. Kegiatan apresiasi dilaksanakan pada akhir pertemuan. Bentuk apresiasi yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompok kepada seluruh siswa. guru memfasilitasi siswa terhadap tanggapan yang diberikan oleh kelompok lain. Tanggapan tersebut dirangkum, untuk kemudian dijadikan acuan perbaikan. Hasil karya siswa yang telah diperbaiki kemudian dipajang di papan pajangan. Implikasi penerapan Piramida Cerita dan Si DIA menciptakan pembiasaan belajar yang terstuktur, membentuk suasana kondusif yang mengarah pada peningkatan literasi siswa. Guna memasifkan implementasi Piramida Cerita dan Si DIA di setiap kelas, penulis pun mengadakan pelatihan internal di sekolah yang melibatkan guru di sekolah. Pelatihan dilakukan dengan rasio teori dan praktik yaitu 30:70. Langkah pendampingan yang dilakukan dengan pendekatan backward by design. Dasar pendekatan ini adalah keyakinan bahwa sebelum memulai sesuatu, seseorang harus menentukan tujuan kahirnya terlebih dahulu. Kegiatan diawali dengan mengidentifikasi tujuan pengembangan kompetensi yang dilakukan. Penulis mengajak guru memastikan bahwa tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan kompetensi guru dalam meningkatkan literasi membaca siswa melalui implementasi Piramida Cerita dan Si DIA.  Tahapan ini merupakan penyamaan persepsi (teori 30%) terkait konsep literasi dan tujuan implementasi di kelas, pengertian, struktur, dan manfaat Piramida Cerita. Kemudian dilanjutkan dengan menentukan asesmen keberhasilan dari kegiatan. Setelah pelatihan, guru menerapkan strategi ini di kelas. Guru menyampaikan bagaiman pelaksanaan dan hasil yang telah dicapai. Langkah terakhir adalah merencanakan langkah kegiatan dalam menerapkan strategi Piramida Cerita dan Si DIA di kelas yaitu praktik langsung (70%). Pada kegiatan ini, guru bertindak sebagai siswa. Guru membaca cerita pendek lalu menyusun Piramida Cerita sendiri. Dalam kegiatan kelompok, guru saling menelaah hasil, misalnya apakah jumlah kata sudah sesuai dan apakah alurnya runtut. Guru menyusun skenario pembelajaran dan lembar kerja untuk kelasnya. Guru juga dilatih untuk merancang kegiatan dan simulasi kelas sebelum menerapkan di kelas masing-masing. Dengan upaya ini, semakin masif dan kreatif upaya guru dalam menerapkan beragam strategi untuk meningkatkan literasi membaca siswa. Semoga!

Baca Artikel →