Mén Paso
Tanah basah melumuri pakaian hingga ke sela-sela jari Mén Paso. Jemarinya yang berkerut terus menari menuntun gumpalan tanah liat basah di atas roda putar kayu. Tanpa listrik, hanya derit roda yang diputar manual memecah sunyi di bawah temaram petromak. Setiap kali roda kayu itu berputar, sebuah paso yang elok selalu berhasil lahir dari tangan Mén Paso. Namun, malam ini dahi wanita paruh baya itu berkerut sedikit lebih dalam. Suara derit roda kayu perlahan melambat.
Gerakan tangannya terhenti sejenak. Ia menghela napas panjang melihat sisa adonan tanah liat yang tinggal sepertiga. Selama tiga minggu terakhir, ia kesulitan mencari pemasok tanah liat. Lahan penyedia tanah liat langganannya sudah berganti fungsi menjadi perumahan. Kalaupun ada dari tempat lain, harganya mencekik kantong. Namun, kini bukan hanya tanah liat yang semakin sulit didapatkan. Kesepian pun perlahan menyusup ke benaknya.
Anak muda di desanya satu per satu memilih bekerja di pusat kota. Mereka lebih tertarik bekerja di tempat-tempat yang dianggap menawarkan masa depan yang cerah. Sementara itu, seni memutar tanah liat semakin dipandang sebelah mata, kotor karena dianggap tidak menjanjikan. Ia tahu bahwa bukan hanya tanah liat yang sedang habis. Namun, sebuah warisan yang telah hidup selama bertahun-tahun di desanya pun perlahan akan menghilang. Mén Paso teringat kembali pada percakapannya dengan Wayan, cucu tertuanya, yang dengan tegas menolak saat hendak ia ajari membuat gerabah.
“Masih mengerjakan paso, Mé?” suara berat Wayan memecah hening.
Anak muda itu berjalan sembari menatap layar ponselnya yang menyala terang. Mén Paso sangat berharap kelak Wayanlah yang mewarisi pondok paso miliknya. Namun, harapan itu sudah terhenti semenjak Wayan bekerja ke pusat kota.
Wayan duduk di lincak bambu tak jauh dari roda putar. “Kenapa masih bertahan, sih, Mé? Anak muda seusiaku mana ada yang mau belepotan lumpur begini. Mending kerja di kota atau jualan online. Hasilnya jelas, baju tetap bersih.”
Mén Paso tak langsung menjawab. Ia mengambil gumpalan tanah baru, menaruhnya di tengah roda, lalu memutarnya kembali. "Tanah ini punya nyawa, Yan. Kalau kita sabar membentuknya, ia bisa memberi makan dan menghidupi keluarga kita bertahun-tahun. Tapi sekarang tanahnya makin susah dicari, begitu pun yang mau belajar cuma angin lalu.”
Ada nada getir yang halus dalam suara neneknya dan entah mengapa, hal itu mengusik hati Wayan. Ia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke jemari neneknya yang gemetar namun, begitu rapi membentuk bibir pot tanah liat. Ia berdiri dan melangkah cepat menuju bilik. Mén Paso hanya bisa terdiam. Ia sudah tak tahu lagi harus berucap bagaimana dengan cucunya.
Malam semakin larut. Tenaga Mén Paso nyaris tak tersisa. Jemarinya yang penuh tanah liat ia bersihkan perlahan. Setelah itu, ia merapikan alat-alat kerjanya satu per satu. Tinggal satu pekerjaan lagi.
Mén Paso menarik napas panjang, lalu mengangkat papan yang berisi paso. Papan itu terasa semakin berat. Tangannya gemetar, kakinya pun mulai goyah. Ia mencoba melangkah menuju tempat pengeringan. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Mén Paso terjatuh dengan keras. Papan di tangannya terlepas. Paso di atasnya bergeser dan jatuh ke tanah. Mén Paso terdiam, napasnya tersengal-sengal. Matanya tertuju pada paso yang berada di ujung papan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Mén Paso merangkak mendekati papan. Ia mengambil paso dengan kedua tangannya. Beberapa saat ia hanya diam, memastikan paso itu tidak hancur. Wayan, yang sedari tadi berada di dalam bilik, langsung menghambur keluar begitu mendengar suara keras yang mengagetkan.
“Ada apa ini, Mé?” tanyanya dengan suara keras. Saking terkejutnya sampai sandal jepit pun tak dikenakannya.
Wayan kian panik melihat Mén Paso terduduk di tanah. Wayan membantu Mén Paso berdiri, tidak ada bagian tubuhnya yang terluka. Hanya saja tangan dan kakinya bergetar hebat. Dengan tertatih, Mén Paso berjalan ke dalam biliknya.
Wayan berdiri terpaku di ambang bilik. Dadanya masih terasa sesak melihat kondisi Mén Paso. Ia memandangi neneknya yang kini duduk bersandar di dipan, napasnya perlahan mulai teratur. Untuk pertama kalinya, Wayan menyadari betapa keras neneknya bekerja seorang diri. Di luar bilik, gerabah-gerabah yang belum selesai masih berserakan. Wayan melangkah, mengambil satu per satu gerabah lalu kembali ke biliknya.
Pagi sudah menyibak selimut malam. Cahaya fajar mulai mengintip di balik pepohonan ketika Mén Paso bergegas ke pondok pasonya. Pemasok dari pasar akan datang mengambil paso yang telah selesai dibuat. Langkahnya terhenti. Dari kejauhan, Wayan sudah duduk di sana, jemarinya sudah kotor berlumur tanah basah begitu pula bajunya. Rupanya, Wayan bangun lebih pagi, bahkan sebelum kokok ayam terdengar. Pertama kalinya ia datang bukan untuk bermain atau mengeluh, melainkan ia ingin membantu neneknya. Mén Paso terdiam sejenak. Senyum tipisnya perlahan mengembang dari wajahnya yang berkerut.
“Wayan, nanti bajumu kotor,” ujar Mén Paso sambil menepuk-nepuk tanah liat yang menempel di pakaian cucunya.
“Tidak apa-apa, Mé. Kali ini ajarkan aku,” sahutnya dengan semangat.
Mendengar ucapan cucunya, dadanya terasa hangat. Ada bahagia yang sulit ia ungkapkan. Wayan diam sejenak, lalu melirik sisa tanah di gentong.
"Mé, tanah liat yang bagus itu bedanya apa sama tanah di belakang rumah yang agak berpasir?" kata Wayan sembari memilin tanah liat di tangannya.
Mén Paso tertawa kecil. "Ah, kalau tanah belakang rumah itu terlalu renyah, Yan. Harus dicampur dengan tanah lempung hitam dan ditapis halus dulu supaya lentur. Harus dicampur dengan sedikit abu gosok halus."
Dengan cepat Wayan berpikir. "Kalau begitu, kenapa kita tidak olah sendiri tanah di ladang belakang? Kita saring airnya, pisahkan pasir kasar pakai kain kasa. Aku pernah lihat videonya di internet, orang-orang luar negeri bikin pottery pakai teknik endapan."
Mén Paso menghentikan putaran rodanya, menatap Wayan dengan mata berbinar kaget. "Memang bisa?" sahutnya penuh harap.
"Bisa, Mé. Wayan bantu ambil tanah belakang, kita coba saring sama-sama," sahut Wayan penuh semangat. Sesuatu di dalam dirinya mendadak terpecik melihat potensi dari hal yang selama ini ia anggap kuno.
“Tapi, Yan, paso yang Mémé buat biasa digunakan untuk upacara persembahyangan. Tiga bulanan, bahkan menghaturkan tirta. Jika bahannya diganti, apakah akan menghilangkan maknanya?” tanya Mén Paso perlahan.
Sejenak Wayan terdiam mencerna pertanyaan Mén Paso. Ia tahu bagi Mén Paso tradisi bukan sekadar kebiasaan, melainkan warisan yang harus dijaga dan dijalankan sebaik mungkin. Mén Paso khawatir, jika ada bagian yang diubah, makna dan kesakralan tradisi itu tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Terselip keraguan yang ia rasa.
“Mé, kita hanya mengganti bahan baku pembuatnya saja bukan mengurangi makna yang ada di dalamnya, bahkan sama sekali tidak menghilangkan tradisi itu, Mé,” jawab Wayan lembut menenangkan Mén Paso.
Mendengar jawaban Wayan, raut wajah Mén Paso tampak lega. Mén Paso menyetujui ajakan cucunya untuk membuat tanah buatan.
"Nanti, gerabah buatan Mémé tidak cuma dijual di pasar desa. Kita bikin bentuk yang lebih modern, seperti cangkir kopi estetis atau pot tanaman hias mini. Wayan yang foto dan jual di internet!" Wayan berseru dengan semangat.
Kini bunyi derit roda kayu tak lagi terdengar sunyi. Ada gelak tawa ringan antara nenek dan cucu yang saling menimpali. Kesulitan bahan baku yang mahal menemukan celah lewat hal sederhana mereka. Dan yang paling berharga bagi Mén Paso, roda kayu tua itu kini tidak lagi berputar sendiri. Ada sepasang tangan muda yang mulai tertarik untuk melanjutkan tarian di atas tanah basah.
Sabtu pagi, pondok paso tempat pemutaran gerabah Mén Paso berubah wajah. Tidak ada lagi tumpukan cobek kasar yang hanya menunggu pedagang pasar datang menawar murah. Di atas meja kayu tua, kini berjejer lima buah mug tanah liat bertangan tunggal dengan lekukan ulir yang halus, serta tiga vas bunga berdesain minimalis hasil Wayan dan kepiawaian jemari Mén Paso.
"Nah, sekarang giliran sinar matahari pagi yang kerja, Mé," kata Wayan sambil menggeser meja ke dekat celah atap.
Mén Paso memperhatikan dengan heran saat Wayan menyusun beberapa ranting kering di dalam vas bunga, lalu meletakkan cangkir tanah liat di atas kain blacu putih. Pemuda itu mengelap sela-sela jarinya yang belepotan tanah, lalu meraih ponsel pintarnya.
Cklik. Cklik.
"Lho, kok difoto sama ranting kering segala, Yan? Nanti orang mikir vasnya belum selesai dibersihkan," celetuk Mén Paso sambil terkekeh pelan, menyapu keringat di dahi dengan lengan bajunya.
"Ini namanya aesthetic staging, Mé! Orang kota cari barang handmade begini bukan cuma buat wadah air, tapi buat hiasan meja kerja sama properti kafe," jawab Wayan antusias. Tangannya lincah mengetik judul di layar ponsel.
Tak berhenti di situ, Wayan meminta Mén Paso duduk di atas dingklik kayunya. Ia merekam video pendek berdurasi 15 detik jemari berkerut Mén Paso yang dengan penuh rasa telaten membentuk leher vas di atas roda putar manual. Suara derit kayu dan napas tenang Mén Paso menjadi nada latar alami yang memikat. Wayan menekan tombol Unggah.
Dua jam pertama, tidak ada yang terjadi. Mén Paso kembali melumpur, meremas adonan tanah liat hasil pembelian kemarin yang teksturnya jauh lebih kenyal dan bersih. Namun, menjelang sore ponsel Wayan yang tergeletak di atas meja kayu tiba-tiba bergetar tanpa henti.
Ting! Ting! Ting!
"Mé! Lihat ini!" Wayan hampir meloncat dari duduknya.
Layar ponselnya dipenuhi notifikasi. Video pendek pembuatan gerabah tadi telah ditonton lebih dari sepuluh ribu kali. Kolom komentarnya dibanjiri pertanyaan. Mén Paso mendekat, mengintip layar kecil yang dipenuhi tulisan asing baginya.
"Orang-orang ini mau beli gerabah Mémé?" tanyanya kebingungan.
"Bukan cuma mau beli, tapi banyak juga yang mau berkunjung untuk melihat proses pembuatannya, Mé!" ujar Wayan dengan mata berbinar-binar. "Harganya tiga kali lipat dari harga cobek di pasar biasa, tapi mereka malah bilang ini sangat murah untuk sebuah karya seni!"
Mén Paso terpaku. Ia menatap telapak tangannya yang penuh guratan dan noda tanah liat basah. Sekian puluh tahun ia menganggap pekerjaan ini hanyalah sisa-sisa mata pencaharian tua yang tak lagi berharga. Namun hari ini, di mata orang-orang jauh di luar desanya, jemari berkerut itu adalah pencipta keindahan. Senyum tulus mengembang di wajah Mén Paso, mengalahkan rasa lelah di punggungnya.
"Yan," bisik Mén Paso pelan, matanya sedikit berkaca-kaca. "Racik tanahnya lagi. Hari ini Mémé mau memutar roda kayu sampai petromak kita menyala nanti malam."
Wayan tertawa riang, segera menggulung lengan kemejanya. Di bawah naungan atap sederhana itu, suara derit roda kayu kembali terdengar kali ini, membawa irama harapan baru yang tak lagi sunyi.
Di antara tanah liat, tanah, dan roda kayu yang terus berputar, Mén Paso menemukan harapan bahwa apa yang selama ini dijaganya tidak akan berhenti di tangannya. Melainkan kini, telah ada yang melanjutkan, merawat, dan memperkenalkan kembali gerabah kepada generasi berikutnya. Roda kayu terus berputar. Begitu pula kehidupan dan tradisi yang akan tetap hidup selama ada hati yang mampu menerima.
Tentang penulis
Putu Utari Sukmadewi, yang akrab disapa Utari, merupakan seorang guru sekolah dasar di Kota Denpasar, Bali. Selain mengabdikan diri dalam dunia pendidikan, Utari memiliki ketertarikan terhadap literasi, khususnya dalam menulis cerita yang mengangkat kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Utari merupakan finalis Lomba Cerpen Gebyar Literasi Kota Denpasar. Melalui karya yang ditulisnya, Utari ingin memperkenalkan paso yang terdapat sebagai salah satu bentuk keragaman tradisional yang dimiliki Kota Denpasar. Baginya, paso bukan sekadar bagian dari tradisi, tetapi juga memiliki nilai budaya yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda agar keberadaannya tetap dikenal dan dihargai.
Punya teman yang butuh informasi ini?